Skip to main content

Finish what you started!

Well.....

Kali ini gue dengan berbesar hati bakal mengakui satu hal. Bener-bener gue udah nyiapin keberanian buat bilang semuanya. Cukup berat, sumpah, ciyus,
 enelan, miapah, anjing gue jadi alay. Gue mau ngaku, GUE GALAU! Stop! Gue nggak lebay. Gue kaga labil. Galau gue lebih expensive. Gue galau akademik! Jeng jeng! Kalo ini sinetron , langsung di zoom shoot ke muka gue. Ada beleknya kaga? Oh gue tetep manis. Ya, gue tau itu.

Back to the topic, gue beneran galau akademik. Ini serius. Tapi Serius udah bubar. Oke ganti Serina. Demi mbak serina atau siapapun. Gue beneran bingung mikir soal kuliah. Gue sekarang mahasiswi semester 3 di Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di Salah satu Universitas Negeri di Indonesia, dan kalau lo mau tau. Kaga mau tau? Pokoknya lo harus tau. Tiap hari gue ketemu angka!

Akhir-akhir ini gue ngerasa nggak nyaman dengan perkuliahan yang gue dapet. Bener-bener stuck ke kondisi dimana gue boseeeeen bangeeet kuliah! Hampir 2 bulan gue nggak keliatan di kampus, gue jadi hantu. Bukan, maksudnya gue nggak masuk kuliah selama 2 bulan. Banyak Ujian per Bab yang gue tinggalin. Temen-temen gue pada nanyain kemana hilangnya gue dari kampus. Sampai suatu waktu dosen gue comment di status fb gue “Hari senin saya tunggu di ruangan saya”

Gue nggak takut, gue Cuma bingung apa yang musti gue jelasin. Gue tau gue bosen dan nggak nyaman. Tapi gue berhadapan sama yang namanya sistem nilai. Dimana kalo usaha lo segitu yaudah nilai lo segitu, nggak ada tolerir.

Awalnya gue ngira kebosanan gue karena ngerasa kesepian, gue kehilangan temen-temen gue yang asik. Tapi setelah gue bilang ke mereka, gue butuh banget dukungan mereka. Dunia Sosial gue balik. Gue punya banyak temen yang support dan sayang banget sama gue. Tapi gue kok tetep males kuliah?

Mungkin karena sibuk kerja? Bukan, gue nikmati kerjaan gue. Dari dulu gue tipe orang yang suka sibuk. So, bukan karena itu

Atau karena problem keluarga? Dikit, gue butuh support dari keluarga gue. Setelah ayah ibu gue sampai angkat tangan liat gue kaga pernah kuliah, gue juga ngerasa bersalah mendzolimi mereka kayak gini.

Finnally, gue curhat sama atasan dan rekan-rekan kerja gue. Beruntung gue masuk ke divisi yang “Lo harus gila kalo mau kerja disini”. Dengan semua ketidak warasan mereka gue ngerasa punya keluarga. Gue paling muda dan cewek sendiri diantara rekan satu divisi. Akhirnya gue ceritain semua masalah kuliah ini. Mereka yang pada udah sarjana bilang pernah berada di posisi yang sama kayak gue. Tapi mau nggak mau mereka harus fighting.

Maha benar rumus dengan segala dampak frustasi yang diberikan. Semua berawal dari kesalahan gue milih jurusan. Gue baru sadar passion gue itu di sastra. Gue suka bergulat dengan komputer berjam-jam buat nulis novel. Gue itu tukang tulis, bukan tukang hitung. Tapi endingnya gue sadar. Gue gabisa ngehindar terus gini. Mau sampai kapan gue bolos kuliah? Toh gue sendiri yang milih jurusan ini dulu. Kalo gue tetep duduk diem ke zona nyaman, kapan gue maju?

Gue mahasiswa matematika, diasah untuk jago ngitung, tapi gue punya bakat sastra. Beberapa cerpen dan novel udah gue hasilin. Gue juga wirausahawan kecil-kecilan. Gue bayar kuliah dengan hasil kerja keras gue sendiri. Diluar sana banyak orang yang berharap sampai menangis untuk ada di posisi gue.


















Gue harus bersyukur. Jalani semua. Selesaikan apa yang sudah dimulai. Finally, thank’s God, I have more than more happiness and amazing life :)

Comments

Popular posts from this blog

Barasukma (27)

Perempuan itu pernah menahan marah. Beberapa orang terhanyut dalam skenario cerita kehidupan pribadinya yang justru mereka buat sendiri. Apa harus menuturkan alasan mengakhiri sebuah hubungan sebelum mulai mengenal pria baru lagi? Dia dihujat. Dia dicaci. Hanya karena dekat dengan pria lalu dengan mudah pergi. Dianggap tukang mempermainkan, tak pernah serius hingga mementingkan perasaan sendiri. Sekali lagi dia hanya menahan marah dengan opini brengsek dari orang-orang yang tidak tahu pasti. Mereka tidak mengerti, seberapa sering dia menangis sesenggukan mendapati riwayat jelajah dari ponsel seorang laki-laki. Bukan perkara seorang selingkuhan atau permainan hati. Melainkan tubuh-tubuh molek dari dalam layar itu dibiarkan tertangkap kamera perekam dengan serangkaian adegan ranjang. Hampir tiap hari dilihat dan mungkin tidak terhitung jari. Perempuan itu masih tak bisa menganalisa logika seorang laki-laki. Bagaimana bisa meliarkan imajinasi pada ratusan video demi kepuasan onan...

Barasukma (18)

Ada yang mengapung di dalam mataku. Sesuatu seperti luka. Tapi riaknya terlalu kecil untuk membuatmu sadar bahwa rindu kita telah tercemar. Aku menyimpan semua rapat-rapat. Hanya untuk menunggu waktu yang tepat. Mengirimimu kartu ucapan bergambar darah dengan sebuah tulisan berbunyi 'terlambat'.

Kencan Kutukan

Sampanku sudah tertambat sendirian pada maghrib terjelang. Ada bekas jejak kaki berlumpur di pinggiran danau tadi petang. Tak biasanya. Aku mencari, lalu seorang kamu muncul dari balik bayang-bayang pohon yang terlempar ke pelataran. Cinta, jatuh aku. Berawal dari “Hallo” sederhana, kita bercerita.   Kubersihkan kakimu dan kita berjalan lama. Kamu ikatkan tali pada sampanku dengan eratnya. Kamu, ego, aku.  "Kita tak bisa hanya berlayar dengan sampan.", katamu berdiri dan kembali ke daratan. Jika kamu butuh kapal untuk kita berkidung dalam aman, aku upayakan. Namun jika bahtera megah hanya agar kamu tak malu mengarunginya, aku berserah. Lalu, kamu berdiri diantara aku dan seseorang yang bersembunyi dibalik punggungmu. Kekasih yang terkamuflase tawa kita. Kamu gandeng dia dengan sisa-sisa lumpur yang terselip diantara jemari kakimu. Pulanglah, kamu ditunggu pernikahanmu minggu depan. Entah senja ke berapa saat kamu berdiri didepanku lagi. Semalam aku menyap...