Skip to main content

Barasukma (2)

Tuhan yang baik, seseorang pernah menyapa-Mu dengan kalimat seperti ini bukan? Dan aku meniru. Aku meniru bagaimana orang itu berprasangka terhadap-Mu. Aku mencoba percaya, bahwa Engkau memang benar-benar Baik.

Tuhan yang baik, malu rasanya ketika aku berdoa tentang seseorang yang sebetulnya belum Engkau janjikan untukku. Ini tentu bukan tulisan indah macam sajak-sajak pecinta. Hanya sebuah upaya barangkali sedikit pengutaraan melalui aksara bisa melegakan sepersekian duka mendalam. Semoga setiap bulir bening yang menetes menjadi doa yang terjabah di antara deretan kata yang baginya mungkin tidak bermakna.

Aku makhluk paling payah yang berpikir bahwa akulah orang yang paling terluka. Sungguh betapa kejinya. Berpikir dia jahat dan bersalah tanpa mawas diri tentang sikapku terhadapnya. Terima kasih. sungguh aku berterima kasih Tuhan. Dia masih sudi aku temani sampai sekarang.

Aku makhluk paling menyedihkan yang berpikir bahwa akulah orang yang paling berharga. Seorang teman pernah berkata, setiap orang berhak atas dirinya sendiri. Dan batas kebahagiaanya, adalah kesediaan orang lain.  Tuhan, dia berhak atas apa yang ingin dia pertahankan dan jalani. Pada setiap kata pisah yang dia utarakan, detik ini aku berserah. Barangkali ketiadaanku adalah kelegaan untuknya. Siapa peduli lukaku? Selagi dia bisa hidup dengan baik  dan bahagia itu sudah sebanding dengan seonggok perasaan sepihak yang harus aku tumbalkan.

Aku makhluk paling pelupa yang tak tahu diri atas semua pengorbanannya terhadapku.  Maaf. Dia boleh berkata tak percaya, dia boleh membuang muka untuk setiap tangisan yang terbuang sia-sia. Aku tidak minta dikasihani, Tuhan. Aku hanya sedang berdoa, barangkali dia akan mengerti seperti apa mencintai.

“Berhentilah berakting,” katanya.

Tuhan, kelak dia mungkin akan tahu. Tubuhku tak sekuat ketika pertama kali dia mengajakku kencan di seberang Taman Budaya dulu. Hatiku tak sekokoh ketika pertama melepaskannya yang berlalu dari teras rumahku kala itu.

Tuhan yang baik. Sudah. Sajadahku sudah basah. Buat dia bahagia, Tuhan. Aku yakin kau yang paling tahu jalannya. Dia pria baik. Dia pria yang sudah berbuat banyak untukku.

Aku…

Aku makhluk paling tak punya harga diri yang tetap berusaha tinggal bahkan setelah diusir berulang kali.

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Perempuan Yang (Pikirannya masih) Sedang Di Pelukan

"Jika yang suci selalu bening, maka tidak akan pernah ada kopi di antara kita." - Sujiwo Tedjo. Perempuan di depanku memandang kosong menembus kaca yang dibasahi bulir-bulir hujan di luar. Sudah berapa prosa yang di dalamnya terdapat adegan seseorang memandangi jendela? Nyatanya keheningan seolah menitip pesan untuk sepi pada setiap tatapan kosong yang pikirannya sedang dikembarakan. Sepi seperti telah menipuku dengan damai. Padahal aku menangkap jelas bagaimana sulitnya perempuan ini berdamai dengan lukanya sendiri. Tak pernah ada yang benar-benar baru, kan? B ahkan untuk sebuah harapan yang benar-benar tersembunyi pada palung hati sekalipun. Tebuat dari apa hati perempuan ini? Kenapa sulit sekali menerima kenyataan yang memang sering tak sesuai keinginan. Tiba-tiba meja di depan kami terasa begitu luas. Sampai aku tak bisa menjangkau perempuan yang sedihnya bisa membuatku kehilangan separuh nyawa agar bangun dari lamunannya. ”Kamu baik-baik saja?” tanyaku...

Perempuan dalam Kamar

"Mas, bangun. Jam piro iki.". Sirine macam apa itu yang mampu membuat jiwaku yang sedang melayang-layang langsung kembali ke peraduannya. Oh, rupanya suara ibuku. Sudah pukul setengah tujuh pagi. Entah berapa jam bersama perempuan itu, sampai aku dibuatnya menyerah. Mataku berat, tapi cukup dapat melihat celanaku sudah basah. Lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi. Menyirami sisa-sisa peluh bekas gulatan tadi malam. Di kantor sebelum jam makan siang. Ketika melewati lobi, aku melirik ke lekuk wajah perempuan di belakang meja kerjany. Entah menyadari lemparan pandanganku atau memang dia juga ingin menatapku, sedetik kemudian mata kami beradu. Dia tersenyum manis, sangat manis, seperti senyum yang aku lihat dalam cumbuan itu. Aku melangkah mendekat, sembari mengingat isi dompet yang mungkin cukup untuk mengajaknya makan siang bersama. Tinggal beberapa meter, tapi sialnya... "Ayo kita makan.". Rekan kerjaku mengecup mesra keningnya. Mereka bangkit, melengga...

100 Hari Tanda Orang Mau Meninggal

Innalillahi wa innailaihi rojiun, datang dari Allah dan selalu kembali kepada-Nya, semoga kita selalu menjadi orang-orang yang selalu mengingat-Nya dan beruntung serta saling mengingatkan. Tanda 100 hari mau meninggal…. Ini adalah tanda pertama dari Allah kepada hamba-Nya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendaki-Nya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapatkan tanda ini, mereka ada yang sadar dan ada yang tidak. Tanda ini akan berlaku lazimnya sholat Ashar. Seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti. Kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lezat dan bagi mereka yang sadar dan berdetik dihati bahwa mungkin ini adalah tanda mati, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau merek...