Skip to main content

Cup cup sayang :)

Gimana perasaan kamu ketika seorang pria yang begitu cuek, yang kadang dingin dan menyebalkan, tiba-tiba menangis tersedu-sedu dihadapanmu? Apalagi dia adalah pria yang begitu kamu sayang.
Pria bukan tidak bisa menangis, ia hanya menumpahkan emosinya dengan cara lain. Egonya terlalu menolak untuk menitihkan airmata. Tapi dalam beberapa kondisi seorang pria bisa ‘kalah’.

“Saking menyesalnya seorang pria telah menyakiti orang yang ia sayang atau membuat kecewa, ia juga dapat menangis.”

Kamu bohong, aku marah, kita bertengkar, aku menangis, kamu minta maaf, kamu berjanji, kita baikan, kamu lupa, kamu bohong lagi, aku marah lagi, lalu apa? Sabar itu bagianku, dan terus menguji kesabaran itu bagianmu. Apa harus seperti itu alurnya? Tidak bisakah kita berusaha membuat segalanya berjalan lebih baik?
Dalam beberapa saat, aku merasa lelah. Berusaha mempertahankanmu namun tetap menjadi diriku sendiri, sudah.
Lalu, apalagi sih yang kamu cari?
Cewe baik, yang diterima keluargamu?
Cewe cerdas yang bisa diajak berdiskusi?
Cewe yang menerimamu apa adanya?
Cewe yang mencoba sabar meski kamu kadang menyebalkan?
Cewe yang bisa buat kamu ketawa?
Cewe yang setia ada untukmu ketika hendak tidur dan saat bangun?
Cewe yang memberimu semangat menjalani semua dengan hebat?
Cewe cantik, putih, semampai, dengan badan seksi, yang gemar memakai pakaian terbuka?
Apa tidak ada di dalam diriku? Oke, mungkin keriteria ke delapan yang terakhir itu tidak. 

Lalu, apalagi sih yang kamu cari?

Sudah beranikah kamu berkata "Oke, pencarianku berhenti.."?


Dan kamu menangis.
Detik itu aku tau, kenapa kamu selalu benci melihat aku menangis. Ternyata begini rasanya, saat orang yang tawanya menjadi binarmu menitihkan airmata. Hey kemarilah, jangan menangis lagi. Saya sayang kamu…

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Barasukma (27)

Perempuan itu pernah menahan marah. Beberapa orang terhanyut dalam skenario cerita kehidupan pribadinya yang justru mereka buat sendiri. Apa harus menuturkan alasan mengakhiri sebuah hubungan sebelum mulai mengenal pria baru lagi? Dia dihujat. Dia dicaci. Hanya karena dekat dengan pria lalu dengan mudah pergi. Dianggap tukang mempermainkan, tak pernah serius hingga mementingkan perasaan sendiri. Sekali lagi dia hanya menahan marah dengan opini brengsek dari orang-orang yang tidak tahu pasti. Mereka tidak mengerti, seberapa sering dia menangis sesenggukan mendapati riwayat jelajah dari ponsel seorang laki-laki. Bukan perkara seorang selingkuhan atau permainan hati. Melainkan tubuh-tubuh molek dari dalam layar itu dibiarkan tertangkap kamera perekam dengan serangkaian adegan ranjang. Hampir tiap hari dilihat dan mungkin tidak terhitung jari. Perempuan itu masih tak bisa menganalisa logika seorang laki-laki. Bagaimana bisa meliarkan imajinasi pada ratusan video demi kepuasan onan...

Kencan Kutukan

Sampanku sudah tertambat sendirian pada maghrib terjelang. Ada bekas jejak kaki berlumpur di pinggiran danau tadi petang. Tak biasanya. Aku mencari, lalu seorang kamu muncul dari balik bayang-bayang pohon yang terlempar ke pelataran. Cinta, jatuh aku. Berawal dari “Hallo” sederhana, kita bercerita.   Kubersihkan kakimu dan kita berjalan lama. Kamu ikatkan tali pada sampanku dengan eratnya. Kamu, ego, aku.  "Kita tak bisa hanya berlayar dengan sampan.", katamu berdiri dan kembali ke daratan. Jika kamu butuh kapal untuk kita berkidung dalam aman, aku upayakan. Namun jika bahtera megah hanya agar kamu tak malu mengarunginya, aku berserah. Lalu, kamu berdiri diantara aku dan seseorang yang bersembunyi dibalik punggungmu. Kekasih yang terkamuflase tawa kita. Kamu gandeng dia dengan sisa-sisa lumpur yang terselip diantara jemari kakimu. Pulanglah, kamu ditunggu pernikahanmu minggu depan. Entah senja ke berapa saat kamu berdiri didepanku lagi. Semalam aku menyap...

Barasukma (18)

Ada yang mengapung di dalam mataku. Sesuatu seperti luka. Tapi riaknya terlalu kecil untuk membuatmu sadar bahwa rindu kita telah tercemar. Aku menyimpan semua rapat-rapat. Hanya untuk menunggu waktu yang tepat. Mengirimimu kartu ucapan bergambar darah dengan sebuah tulisan berbunyi 'terlambat'.