Aku bukan pecinta yang baik. Aku mencintaimu dengan berantakan kadang-kadang. Aku pecemburu. Aku pemarah. Dan aku pembuat drama dari masalah-masalah sederhana. Aku berdusta. Itupun tanpa sengaja karena terlalu takut kamu dilanda amarah dan curiga. Namun aku lupa. Aku tidak pandai berdusta. Aku pantas dituduh semena-mena. Aku pantas mendapatkan label biadab. Tangisku pecah kemana-mana. Rasa bersalah, rasa takut kamu menyerah, dan harapan agar kamu tahu hal yang sebenarnya. Bahwa aku mencintaimu tanpa mendua. Aku mencintaimu tanpa berniat khianat sedikit saja. Samar-samar ada yang menggelitik nalar. Cinta saja tidak cukup, Nona. Terlalu banyak rasa tanpa tindakan baik buat apa? Kamu benar, kamu bukan Tuhan yang tahu bagaimana hati dan pikiran manusia. Aku makin menangis sejadi-jadinya. Tepat satu tahun ketika kita duduk berdua tak jauh dari taman budaya. Kamu berkata, kamu sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta....
Kenapa harus berlari jauh kalau terkadang ketenangan kecil justru yang memberi kebahagiaan