Skip to main content

Posts

Barasukma (21)

Aku rindu Ibu. Di sebuah taman, sekitar satu bulan lalu, aku menyapanya. Ia tak mendengar suaraku. Ia sedang sibuk mengerjakan laporannya. Aku tak melihat jelas wajahnya. Tapi aku sangat hafal suaranya yang lantang dan ia suka tertawa. Kalau Ayah, aku justru jarang berjumpa dengannya. Terakhir kami berkumpul di kamar. Pertama kali mengenaliku, Ibu menangis, mungkin saking terharunya. Sementara ayah jarang mengunjungiku setelahnya. Tidak dengan hari ini. Ayah datang menyapaku. Ia menanyakan kabarku, mengirim makanan, dan mengajakku bermain balon-balon berwarna merah. Tiba-tiba aku ditarik. Sakit sekali rasanya. Pertama kalinya aku melihat ibu dengan jelas. Kenapa ia tidak tertawa seperti biasanya? Ia memejamkan mata dan ayah duduk memegangiku serta balon-balon merah di sisinya. Lalu semuanya gelap. *** “Sudah keluar?” “Sudah.” “Biar aku yang kuburkan.” ***

Barasukma (20)

Seorang pria murka dan melempar pisau berlumuran darah. Seketika seorang wanita meringis kesakitan. “Kau mengenaiku!” Dia mencabut pisau yang tertancap di lengan kanannya. Mereka bertengkar tentang siapa yang harus dibunuh terlebih dahulu. Sampai pada suatu malam, wanita itu bersila di sudut ruangan. Badannya berkeringat dan berantakan. Dia kelelahan dan tertawa, memainkan ujung tali tambang yang telah terikat ke tubuh beberapa orang. Mereka didudukkan di atas peti-peti penuh berisi dokumen usang. Dalam hitungan detik sang pria meraih wanita itu ke dalam pelukan. “Satu batang dulu, ya.” Wanita itu menyalakan rokok dan lagi-lagi tertawa geli. Menertawai keadaan, mengapa menghabiskan waktu memburu kesalahan yang dulu-dulu. Isapan rokok terakhir. Mereka berjalan keluar ruangan. Sedikit jinjit untuk menghindar dari bensin yang berceceran. Ditutupnya pintu, dikuncinya pelan. Isapan terakhir. Rokok itu dia buang. “Sudah habis?” Wanita itu menatap Sang pria. T...

Barasukma (18)

Ada yang mengapung di dalam mataku. Sesuatu seperti luka. Tapi riaknya terlalu kecil untuk membuatmu sadar bahwa rindu kita telah tercemar. Aku menyimpan semua rapat-rapat. Hanya untuk menunggu waktu yang tepat. Mengirimimu kartu ucapan bergambar darah dengan sebuah tulisan berbunyi 'terlambat'.

Barasukma (17)

Tadinya aku mau mengeluh. Mengapa mencintaimu demikian melelahkan. Demikian menyakitkan . Tapi tulisan itu hilang. Tersapu angin yang pelan-pelan menghembuskan rindu jauh ke pulau seberang. Mencintaimu seperti menunggu kapan angin datang. Ketika jarak semakin mempertegas raga dan waktu mengulur kesempatanku bertemu denganmu. Ada lengang berlinang di ujung mata, serupa butiran bening embun yang jatuh turun setiap pagi tiba. Berharap mungkin dapat memeram rindu, tapi menunggu menjadikannya tumbuh beringas dan tak tahu malu. Bagian yang aku benci dari rindu adalah menunggu balasan. Paling tidak untuk paham bahwa aku tidak merasakan ini sendirian. Aku merindukanmu sampai puisi-puisi itu hampir gila. Mereka kelelahan mendoakan penulisnya yang kesepian. Tadinya aku mau murka. Mengapa merindukanmu demikian membuat uring-uringan. Sampai aku lupa, dan hanya berakhir pada kata “Kapan pulang?”