Skip to main content

Posts

Barasukma (18)

Ada yang mengapung di dalam mataku. Sesuatu seperti luka. Tapi riaknya terlalu kecil untuk membuatmu sadar bahwa rindu kita telah tercemar. Aku menyimpan semua rapat-rapat. Hanya untuk menunggu waktu yang tepat. Mengirimimu kartu ucapan bergambar darah dengan sebuah tulisan berbunyi 'terlambat'.

Barasukma (17)

Tadinya aku mau mengeluh. Mengapa mencintaimu demikian melelahkan. Demikian menyakitkan . Tapi tulisan itu hilang. Tersapu angin yang pelan-pelan menghembuskan rindu jauh ke pulau seberang. Mencintaimu seperti menunggu kapan angin datang. Ketika jarak semakin mempertegas raga dan waktu mengulur kesempatanku bertemu denganmu. Ada lengang berlinang di ujung mata, serupa butiran bening embun yang jatuh turun setiap pagi tiba. Berharap mungkin dapat memeram rindu, tapi menunggu menjadikannya tumbuh beringas dan tak tahu malu. Bagian yang aku benci dari rindu adalah menunggu balasan. Paling tidak untuk paham bahwa aku tidak merasakan ini sendirian. Aku merindukanmu sampai puisi-puisi itu hampir gila. Mereka kelelahan mendoakan penulisnya yang kesepian. Tadinya aku mau murka. Mengapa merindukanmu demikian membuat uring-uringan. Sampai aku lupa, dan hanya berakhir pada kata “Kapan pulang?”

Barasukma (16)

Untuk kamu, Bagaimana jika sejumput cinta meletup ketika disangka sudah padam lama? Aku tidak pernah tahu. Membayangkan saja aku tidak berani. Kecuali pada hari itu, ketika berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, dua manusia menghabiskan waktu lama untuk sekedar rebahan dan bercerita banyak hal berdua. Aku pernah menyiksa laki-laki dengan tidak-pastian. Setelah itu semua, ku basuh karma dengan seseorang setelahnya. Lalu tersakiti sebegitu kejinya. Di tahun-tahun aku jatuh. Kamu datang dengan senyum malu-malu yang menyalami melalui banyak kawan. Bertanya kesana-kemari tentangku yang tidak berani kamu sapa duluan. Dan lihat! Bagaimana kamu mencintaiku dengan susah payah sekarang. Aku hafal cara kamu merengkuh dengan dewasa. Aku yang cengeng dan kamu meniupi kepalaku agar tidak kegerahan. Aku yang marah dengan banyak cara sementara kamu tidak pernah gengsi memeluk dan merayu sampai kita tertawa. Aku kagum tabahnya kamu berkata “Iya,” pada setiap perdebatan yang ...

Barasukma (15)

S eorang perempuan menjerang air dalam kuali sedang. Sengaja tidak dia isi penuh karena berpikir akan ada yang pulang lebih awal. Dia tunggui sampai mendidih di sudut ruangan. Berharap air hangat cukup melegakan seseorang yang kelelahan. Di atas kasur tipis, seorang pria terlanjur tidur meringkuk membalas kantuk yang sudah dia tahan-tahan. Sebelumnya, dia meminta singgah dan mengeluh tidak tidur semalaman. Si perempuan memandanginya dalam diam tak berani membangunkan. Selepas air dalam kuali berbuih, dia angkat pelan-pelan. Perempuan itu menggenggam kuali erat-erat. Menjajal manakala airnya terlampau panas untuk dihidangkan. Dia tunggui sampai si pria bangun sendiri atas kemauan. Tiba-tiba pria itu terbangun seketika. Dengan wajah dilipat-lipat amarah, karena tidurnya tidak tuntas. “Ada apa?” tanya perempuan itu kebingungan. “Aku sudah singgah. Aku pulang. Sudah malam.”  Pria itu  langsung bangkit seolah keberadaannya dipaksakan. Lalu si perempuan ters...

Barasukma (14)

Sebuah hubungan tidak perlu deklarasi, semestinya juga tidak perlu kesepakatan perihal kesetiaan. Karena jika mau selingkuh atau mau berpisah, tidak ada hal yang bisa menghentikan kita melakukan itu. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana membuat sebuah hubungan layak diperjuangkan dan dipertahankan. b eruntungla h kamu, sebab aku men deklarasi kan hati pada satu.

Barasukma (13)

Hallo… Aku diam, namun dalam kepala ini riuh berbincang. Tugas-tugas ini membuatku separuh gila. Di sela jendela angin mengintip lalu masuk perlahan memikul debu bertebangan. Dari layar yang sedari tadi hitam karena kursos yang berjam-jam tidak sanggup aku gerakan, muncul sesosok bayangan keabu-abuan. Kamu terbaring dalam lelap, entah bermimpi apa.  Sepi. Ah, kenapa kamu tidak bangun saja? Lalu menemani aku berbincang tentang banyak hal seperti biasanya. Mungkin seketika itu bohlam ide muncul di atas kepalaku untuk menyelesaikan semuanya sebelum deadline tiba. Aku berbalik mencari-cari jurus untuk membangunkanmu dengan satu kata. Ternyata tak mudah. Berakhir pada memandangimu yang terpejam.  Dadamu berdedup teratur. Samar-samar membentuk irama bersama hatiku yang makin ngilu. Selalu saja aku mati lemas melihat jiwamu yang melayang-layang dalam tidur pulas. Nafasmu lirih malu-malu mirip lagu yang kamu buat tentang aku yang m...

Barasukma (12)

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu… kecuali saat ini. Ketika abaimu semakin berjelaga, dan ego sibuk mempertegas kesalahan sederhana Sehari sebelumnya, Seseorang berkata cinta mungkin merendah tapi tidak mengemis pinta Aku rindu kamu... awalnya Lalu memilih menepi Daripada menyiapkan peti matiku sendiri Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu…  kecuali saat ini. Ketika panggilanku berdering kesekian kali lalu ibu jarimu membuatnya mati Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu…  kecuali saat ini. Selalu meminta pergi dan membiarkanku menjadi hal menyedihkan, yang meminta untuk tidak ditinggalkan Berkata sudah cukup sabar Tanpa pernah tahu lukaku berkali-kali lipat dari itu