Skip to main content

Posts

Barasukma (16)

Untuk kamu, Bagaimana jika sejumput cinta meletup ketika disangka sudah padam lama? Aku tidak pernah tahu. Membayangkan saja aku tidak berani. Kecuali pada hari itu, ketika berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, dua manusia menghabiskan waktu lama untuk sekedar rebahan dan bercerita banyak hal berdua. Aku pernah menyiksa laki-laki dengan tidak-pastian. Setelah itu semua, ku basuh karma dengan seseorang setelahnya. Lalu tersakiti sebegitu kejinya. Di tahun-tahun aku jatuh. Kamu datang dengan senyum malu-malu yang menyalami melalui banyak kawan. Bertanya kesana-kemari tentangku yang tidak berani kamu sapa duluan. Dan lihat! Bagaimana kamu mencintaiku dengan susah payah sekarang. Aku hafal cara kamu merengkuh dengan dewasa. Aku yang cengeng dan kamu meniupi kepalaku agar tidak kegerahan. Aku yang marah dengan banyak cara sementara kamu tidak pernah gengsi memeluk dan merayu sampai kita tertawa. Aku kagum tabahnya kamu berkata “Iya,” pada setiap perdebatan yang ...

Barasukma (15)

S eorang perempuan menjerang air dalam kuali sedang. Sengaja tidak dia isi penuh karena berpikir akan ada yang pulang lebih awal. Dia tunggui sampai mendidih di sudut ruangan. Berharap air hangat cukup melegakan seseorang yang kelelahan. Di atas kasur tipis, seorang pria terlanjur tidur meringkuk membalas kantuk yang sudah dia tahan-tahan. Sebelumnya, dia meminta singgah dan mengeluh tidak tidur semalaman. Si perempuan memandanginya dalam diam tak berani membangunkan. Selepas air dalam kuali berbuih, dia angkat pelan-pelan. Perempuan itu menggenggam kuali erat-erat. Menjajal manakala airnya terlampau panas untuk dihidangkan. Dia tunggui sampai si pria bangun sendiri atas kemauan. Tiba-tiba pria itu terbangun seketika. Dengan wajah dilipat-lipat amarah, karena tidurnya tidak tuntas. “Ada apa?” tanya perempuan itu kebingungan. “Aku sudah singgah. Aku pulang. Sudah malam.”  Pria itu  langsung bangkit seolah keberadaannya dipaksakan. Lalu si perempuan ters...

Barasukma (14)

Sebuah hubungan tidak perlu deklarasi, semestinya juga tidak perlu kesepakatan perihal kesetiaan. Karena jika mau selingkuh atau mau berpisah, tidak ada hal yang bisa menghentikan kita melakukan itu. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana membuat sebuah hubungan layak diperjuangkan dan dipertahankan. b eruntungla h kamu, sebab aku men deklarasi kan hati pada satu.

Barasukma (13)

Hallo… Aku diam, namun dalam kepala ini riuh berbincang. Tugas-tugas ini membuatku separuh gila. Di sela jendela angin mengintip lalu masuk perlahan memikul debu bertebangan. Dari layar yang sedari tadi hitam karena kursos yang berjam-jam tidak sanggup aku gerakan, muncul sesosok bayangan keabu-abuan. Kamu terbaring dalam lelap, entah bermimpi apa.  Sepi. Ah, kenapa kamu tidak bangun saja? Lalu menemani aku berbincang tentang banyak hal seperti biasanya. Mungkin seketika itu bohlam ide muncul di atas kepalaku untuk menyelesaikan semuanya sebelum deadline tiba. Aku berbalik mencari-cari jurus untuk membangunkanmu dengan satu kata. Ternyata tak mudah. Berakhir pada memandangimu yang terpejam.  Dadamu berdedup teratur. Samar-samar membentuk irama bersama hatiku yang makin ngilu. Selalu saja aku mati lemas melihat jiwamu yang melayang-layang dalam tidur pulas. Nafasmu lirih malu-malu mirip lagu yang kamu buat tentang aku yang m...

Barasukma (12)

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu… kecuali saat ini. Ketika abaimu semakin berjelaga, dan ego sibuk mempertegas kesalahan sederhana Sehari sebelumnya, Seseorang berkata cinta mungkin merendah tapi tidak mengemis pinta Aku rindu kamu... awalnya Lalu memilih menepi Daripada menyiapkan peti matiku sendiri Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu…  kecuali saat ini. Ketika panggilanku berdering kesekian kali lalu ibu jarimu membuatnya mati Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mengubur rindu…  kecuali saat ini. Selalu meminta pergi dan membiarkanku menjadi hal menyedihkan, yang meminta untuk tidak ditinggalkan Berkata sudah cukup sabar Tanpa pernah tahu lukaku berkali-kali lipat dari itu

Barasukma (11)

Kopiku tandas Sampai dasar cangkir bergegas mengemasi cemas Aromanya tak lagi membekas Sepi… Serupa sisa kopimu yang mengering hingga pagi Kopiku tinggal ampas Pahit dan hitam legam membentuk senyum pucat Seperti wajah manakala kamu meminta semua disudahi Kopiku tinggal satu teguk lagi Bibir makin miskin kata-kata Duka yang entah mengarah kemana Tak hancur namun porak poranda Kopiku habis tak bersisa sama sekali Mustahil diseduh kedua kali Buat saja kopi baru meski masih pada cangkir yang sama Akan seperti apa? Rasa saja dan jangan pernah tinggalkan tanda tanya

Barasukma (10)

Kamu benar. Tidak ada sayang yang semestinya diunggul-unggulkan. Sebatas rasa mengenai seberapa besar makhluk rapuh bernama manusia yang menjatuhkan hati pada manusia lain. Lalu merasa bahwa dirinya adalah sesama yang paling tahu kebahagiaan dari yang dia cintai. Padahal ego masih berharap memiliki namun ditahan-tahan demi kebahagiaan kekasihnya seperti lirik lagu masa kini. Bagaimana jika kekasihmu memilih pergi? Kamu adalah bukti hidup yang membuat mataku terbuka lebar, bahwa terkadang melepas pelukan adalah cara terbaik agar seseorang tetap bernafas. Dan menjaga jarak lebih jauh adalah jalan agar kamu tetap bisa melangkah. Kamu pria dewasa yang tahu benar bagaimana mengambil keputusan. Meski berkali-kali semua terlontar ketika kamu dibakar api amarah sementara aku adalah penyulutnya. Kesalahan kecil yang aku lakukan berulang-ulang adalah hal yang tidak bisa ditoleransi. Bagaimana menjaga seseorang yang bahkan tidak bisa menjaga ucapannya sendiri? Ketika kamu memutuska...