Skip to main content

Posts

Hujan, Kenangan, dan Pria yang Tidak Sabaran

Hujan sudah mengguyur sebagian wilayah Indonesia dengan intensitas sedang sampai lebat. Sudahkah kotamu diselimuti awan mendung beberapa hari terakhir? Sore itu saya merasakan air hujan mulai turun dari langit Yogyakarta untuk pertama kalinya. Tidak lebat, hanya tetes-tetes air yang terlihat dari kaca jendela lantai dua.   “Akhirnya hujan.”   Seorang pria di sebelah saya sedikit menengok ke arah langit. Beberapa hari ini kami sama-sama penat dengan cuaca mendung tanpa angin yang membuat kegerahan. Pendingin ruangan di kantor sengaja diatur sampai suhu paling rendah. Sungguh, panas sekali sampai pria itu selalu kesal bertanya kapan hujan.   Alangkah lebih baik mengkonsumsi banyak air putih agar terhindar dari sakit karena pergantian musim. Mungkin beberapa waktu kemudian hujan lebat akan mengguyur dengan rutin. Selain fisik dan peralatan bepergian yang wajib disiapkan menjelang musim hujan, ada hati yang harus siap menerima keadaan.   Ad...

Padamlah Resah, Sebab Masa Lalu Tak Selalu Salah

Hub ungan bukan sekadar perkara berjalan bersama namun juga ikhlas menerima keduanya. Ikhlas.  Satu kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sungguh sangat berat maknanya. Ikhlas bukan sesuatu yang kau ucapkan. Ikhlas bukan pula sebatas berkata “Iya” pada sesuatu yang sedang dihadapkan. Ikhlas adalah masalah hati, seberapa sanggup dia menjadikan sesuatu tidak terlalu dipermasalahkan dan tidak membebani. Ikhlas bukan pula sekadar melepas seseorang yang pergi, namun juga menerima waktu yang terlanjur berlalu. Dua orang dalam sebuah hubungan tentu memiliki dua kehidupan masing-masing sebelumnya. Hingga pada akhirnya mereka dipersatukan rasa. Bagaimana jika waktu itu ada bahkan sebelum kalian saling bertemu? Seperti masa lalu.   Ingatan siapa yang tak gerah diselimuti bayang-bayang kabut masa silam. Bagaimana bisa melangkah maju jika masih ada beban berat menggantung di pijakan kalian. Mengapa meneruskan jika masih menyimpan sakit yang tidak berkesudahan? Tanyakan...

Barasukma (9)

Ada sepasang mata teduh di ujung pintu. Dari kelopaknya bergaris-garis lelah menekuk kulit berpeluh. Dia lepas sepatu tanda menunduk. Tangan kanannya bersandar pada rangka pintu sementara tangan kirinya menarik kaos kaki dalam sekali hempasan lalu jatuh. Ku datangi dia. Ku relakan telingaku digaduhi keluh tentang bagaimana riuh harinya sepanjang pagi hingga sore tadi. Dia selalu enggan aku peluk ketika berkeringat seperti itu. Ku biarkan saja dia melunturkan letih di ruang tamu. Selepas makan tadi, dia menyandarkan punggung di sofa depan televisi. Lagi, dia selalu enggan pula aku peluk ketika perutnya kekenyangan seperti itu. Ku biarkan saja dia menikmati pertandingan sepak bola dan hembusan asap rokok sendiri. Dia masih berdiam diri. Tak ku kubiarkan dia tahu sederas apa air mataku sebelum dia pulang tadi, ketika aku membaca buku lama yang hampir saja lenyap dimakan usia. Sampai bersisa jelaga di ujung mata yang belum terhapus sama sekali. Lalu dia panggil aku. Butuh bermenit-...

Barasukma (8)

Aku menemukan sebuah kotak lama yang tak pernah kau biarkan siapa saja membukanya. Mengapa? Aku manusia yang percaya, bahwa ketika kenangan itu sudah dirasa biasa saja, kau akan dengan mudahnya bercerita tanpa perlu mengingat luka lama. Begitu rapatnya kau menutup dengan dusta rapi entah apa maksudnya. Percakapan itu bermula dari sepenggal sajak yang bukan tak sengaja aku kutip. “Lepas, lepaslah cemburu, sesudah itu abu. Selama aku dan kamu dekat. Tak masalah”. Kita tidak sedang berdebat kata, kita hanya ingin membenarkan keyakinan. Ini semakin membuatku tahu bahwa menyampaikan perasaan lewat isyarat kata tak selamanya akan sampai dengan mulus ke hati yang dituju, karena isyarat tetaplah isyarat, dan bagaimanapun kata yang mewakili perasaan lebih sering tertangkap tak sama di setiap hati yang berbeda. Ini adalah tentang cemburu. Dulunya, bagiku cemburu hanyalah rindu yang kurang beruntung. Rindu yang menutup sedikit saja hal wajar bisa nampak begitu menusuk menjadi sesuatu yan...

Barasukma (7)

kumatangkan sendu pada deret bangku panjang dan riak sungai ingatan di senarai dedaun jatuh aku wanita yang dengan mudah kamu dapatkan yang gemar cengeng menangis sesenggukan aku memeluk tanah berhumus aku mencabik-cabik muka buruk yang pernah kau kutuk bukanlah berparas menawan dan bergelimangan tubuh ini ...mengubur diri bersama ratusan lirik prosa luka yang menyenandung puisi hilang sudah dialog puja puji airmata malam memandikanku dalam ketelanjangan lemparkan saja tubuh ini seperti bangkai pada kerumunan anjing agar  mereka tak kelaparan lalu mati satu per satu rasa tanpa jeda sekedar mengeja satu nama ku tulis rangkai kata pada jiwa terpalung ba’da ahad kala pagi dini berkabut aku bukan wanita yang bertahun-tahun kau tunggui kehadirannya tiba-tiba saja ingin kutulis sebuah resah dengan matamu seketika itu terhenti di riuh dadaku lantas membuatnya tergetar napas jenak terhentak-henti tuas jantung berdetak lebih degup membuat segalanya seolah menjadi lebih ...

Barasukma (6)

Aku bukan pecinta yang baik. Aku mencintaimu dengan berantakan kadang-kadang. Aku pecemburu. Aku pemarah. Dan aku pembuat drama dari masalah-masalah sederhana. Aku berdusta. Itupun tanpa sengaja karena terlalu takut kamu dilanda amarah dan curiga. Namun aku lupa. Aku tidak pandai berdusta. Aku pantas dituduh semena-mena. Aku pantas mendapatkan label biadab. Tangisku pecah kemana-mana. Rasa bersalah, rasa takut kamu menyerah, dan harapan agar kamu tahu hal yang sebenarnya. Bahwa aku mencintaimu tanpa mendua. Aku mencintaimu tanpa berniat khianat sedikit saja. Samar-samar ada yang menggelitik nalar.   Cinta saja tidak cukup, Nona. Terlalu banyak rasa tanpa tindakan baik buat apa? Kamu benar, kamu bukan Tuhan yang tahu bagaimana hati dan pikiran manusia. Aku makin menangis sejadi-jadinya.   Tepat satu tahun ketika kita duduk berdua tak jauh dari taman budaya. Kamu berkata, kamu sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta....

Barasukma (5)

Sayang, apakah kau merasakan bahwa ratusan perempuan yang pernah merajam dalam benakmu membuat segalanya binasa ?  Terkadang aku merasa dulu kita sama-sama batu besar tanpa rongga. Hingga tiap cerita masa lalu memahat dan menjadikannya serpihan berserakan. Makin lama, makin terkikis, makin berlubang penuh luka. Apa yang tersisa dari serpihannya? Ujung runcing yang siap menancap pada jejak-jejak cerita. Ketika tanpa sengaja menancap tajam seperti sebuah sengatan sampai jantung dan pikiran dalam-dalam, kita saling mengutuk seolah mampu membuatnya utuh lagi. Harus apa dan bagaimana, sayang? Atau musti bendera putih yang salah satu dari kita kibarkan di bawah pepohonan belantara. Sementara satu yang lain tengah sibuk memenggal cabangnya karena ditinggalkan semena-mena. Pastikan ketika salah satu itu memutuskan berhenti, tidak akan ada sesal agar tak perlu mengejar satu yang lain yang terlanjur berjalan sendiri. Aku lelah, sayang. A...