Skip to main content

Posts

Pagut Malam, Sisa Luka, dan Rasa yang Tidak Ada Habisnya

Selamat malam muara rinduku. Lelahkah? Kemari. Istirahat di pangkuanku sembari kuceritakan sebuah kisah tentang dua orang yang membuang-buang waktu untuk sebuah pertikaian tidak mutu. Lelakiku, dengarlah.... Malam menjelma bak binar matanya yang pekat namun berkilauan. Pada kebenaran yang tekuak, ada wanita yang menangis saking tak sanggupnya mengutarakan muak. Bulir bening tidak lagi mengalir namun masih berjelaga. Dia duduk seorang diri memamah sisa-sisa luka remeh yang dia umpat untuk tidak semestinya ada. Seorang pria memunggunginya dan menanti, membiarkan si wanita berdamai dengan lukanya sendiri. Wanita itu memeluk pria yang setengah telanjang dari belakang. Biar luruh segenap hati dan apa-apa yang tidak sanggup disuarakan sama sekali. Rentanglah bahu si pria, membiarkannya dijubahi laku wanita yang tidak lagi berani mendewakan emosi. Lelakiku, bayangkanlah.... Mereka mendudukkan wajah dalam-dalam, merasa malu pada janji yang sudah dikesampingkan oleh ama...

Barasukma (3)

Sejujurnya aku gagal memahami apa yang terjadi diantara kita akhir-akhir ini. Aku lemah mengartikan ke mana kesiur makna pada tiap helai amarah yang terbuang sia-sia. Perbincangan kita tak lebih dari tatap saling bertanya. Hanya detak dan kerenyit jantung yang melemah. Cuma sedemikan itukah isi segala jumpa? Di separuh bulan yang terlupa ada hati yang tahu tapi tak mau bicara. Gelisah terpapar di suatu keheningan. Mereka saling diam, berdiang resah masing-masing sama terpojoknya. Mereka dimamah ulam dan gemuruh tersisa, tersisih risih niat tanpa solusi saling menanti. Siapa? Siapa yang akan memulai bincang jika ego masih saling melawan. Kita buta. Sejak lama. Seseorang pernah menumpahkan lahar di sana. Sampai hitam kedua bola matanya. Sampai kering terbakar lelehannya. Kita bisu. Sejuta bahasa. Seseorang pernah merobek bibirnya. Sampai bernanah darah pada tiap kata yang kadung luka. Kita sembuh. Berdua. Seseorang pernah bersusah payah kembali, membangun lagi, d...

Barasukma (2)

Tuhan yang baik, seseorang pernah menyapa-Mu dengan kalimat seperti ini bukan? Dan aku meniru. Aku meniru bagaimana orang itu berprasangka terhadap-Mu. Aku mencoba percaya, bahwa Engkau memang benar-benar Baik. Tuhan yang baik, malu rasanya ketika aku berdoa tentang seseorang yang sebetulnya belum Engkau janjikan untukku. Ini tentu bukan tulisan indah macam sajak-sajak pecinta. Hanya sebuah upaya barangkali sedikit pengutaraan melalui aksara bisa melegakan sepersekian duka mendalam. Semoga setiap bulir bening yang menetes menjadi doa yang terjabah di antara deretan kata yang baginya mungkin tidak bermakna. Aku makhluk paling payah yang berpikir bahwa akulah orang yang paling terluka. Sungguh betapa kejinya. Berpikir dia jahat dan bersalah tanpa mawas diri tentang sikapku terhadapnya. Terima kasih. sungguh aku berterima kasih Tuhan. Dia masih sudi aku temani sampai sekarang. Aku makhluk paling menyedihkan yang berpikir bahwa akulah orang yang paling berharga. Seorang te...

Madri

Kau membawaku berkisah di atas Lembu Nandini. Kadung larung hati terbawa janji-janji. Matahari, ilalang, awan, langit, tanah, hujan, dan kamu yang tak habisnya aku jadikan puisi-puisi. Tepat saat sajakku jatuh pada sebuah batu, yang tak hancur dierosi tangis sesaji. Batu keras sekeras ego yang memenggal permohonan ampun hati. Kau tahu kan, bahwa jangan pernah menyimpan batu di sakumu ketika berjalan. Seperti halnya jangan menyembunyikan ego dibalik sebuah usaha saling pengertian. Jangan pula kau buang sembarangan. Kau tidak akan tahu kepala siapa yang akan pecah terkena lemparan. Hancurkan saja. Hancurkan dan jadikan serpihan pasir-pasir ringan. Barangkali kau bisa membangun sebuah rumah kokoh dengan pasir yang tertumpuk perlahan-lahan. Kau Pandu yang disumpah mati. Dan aku takut menjadi mautmu ketika kau lupa diri. Pada sajak yang berhenti, porsiku adalah menjagamu agar tak seperti dulu lagi. Aku terlalu malu memintamu tinggal sementara berulang kali diusir pergi. Sungguh, ketika ...

Lelakiku

Untukmu, lelakiku. Tuan pemilik seonggok gengsi dan rindu yang begitu dalam. Kusuguhkan pengantar rindu ini melalui sepenggalan malam. Ketika bulan larung dan gigil dingin merikuk pada remang. Lelakiku yang cinta tapi keras kepala Binar mata masih berjejal dengan serangkaian bisik yang terdengar samar semalam. Bersama sepuntung rokok dan kamu yang selalu marah manakala aku tiba-tiba batuk di antara tidur. Lalu memicingkan larangan dengan letupan cinta yang belum padam. Lelakiku yang utuh tapi selalu mengeluh  Aku menahan tawa. Lantaran kerutan alismu pada buncit tiap kali menatap pantulan cermin di lemari. Seberapapun kamu merasa gersang dengan ambisi fisik, hujan pujian tak pernah khatam bersama peluk yang menyegalakanmu. Lelakiku yang satu tapi selalu cemburu Aku menyerah, pada murkamu yang seolah memamah sajak-sajak patah. Kemari, rebahkan resahmu di atas pangkuanku dan lelaplah. Kediamanmu membuat huruf-huruf berhamburan di rahim puisi tak lag...

Teruntuk Sigaring Nyawa

Aku menulis surat ini perlahan-lahan dengan sedikit rasa kesal. Barangkali kamu akan berfikir bagiku ini mudah. Sialan! Berkali-kali aku menekan backspace untuk menghasilkan kalimat puitis agar kamu terharu, menciumku, lalu kita bercumbu. Tolonglah, ini hari ulang tahunmu. Jangan bahas ng… itu dulu. Semalaman aku membentuk kata-kata sembari mengingat mata dan bibirmu yang menahan tawa ketika kita saling bertukar bualan. Dengan harapan ia adalah rupa lain doa yang akan membuatmu memikirkanku, kerinduan dan sebuah perasaan yang sudah saling kita tahu. Kita pernah saling mencintai dengan berantakan, dengan urusan sendiri yang belum terselesaikan. Lantas terpelanting ke arah berbeda oleh kenyataan. Oleh rasa sakit dan tidak nyaman yang masing-masing dari kita percaya bahwa apa yang kita rasakan adalah yang paling benar. Kita menciptakan jarak untuk ditempati luka, kebencian dan sisa-sisa umpatan. Ya, aku akan terus menerus memaafkanmu. Hingga untuk yang terakhir aku akan memaafkanm...

Cumbu Cemas

Harapan itu semestinya hidup, bukan sekedar peluh yang jatuh entah kemana seusai mereka bercinta. Barangkali peluh terhapus tissue atau memuai seketika dan hilang begitu saja. Harapan sewajarnya dipelihara. Dia dibesarkan. Dan dia dirawat sebaik-baiknya. Lantas kalau sudah besar akan diapakan? Bukankah akan lebih berat membawa sesuatu yang besar? Kalau tak bisa dijinjing, kau bisa memikulnya bersama seperti kata pepatah lama. Yakinkah mereka mempunyai harapan? Mungkin pernah mempunyai. Sama-sama mempunyai. Masihkah mempunyai? Tidak jika keduanya bercinta tanpa rasa cinta yang sesungguhnya. Tapi siapa yang memperdebatkan cinta jika otak hanya berfikir bagaimana mencapai puncak orgasme saat itu juga. Siapa yang tak lelah kalau membangun harapan, diambrukkan, membangunnya lagi, diretak-ambrukkan lebih hancur lagi, membangun harapan lebih lagi. Si perempuan menciumi si lelaki pelan-pelan. Dia memorikan aroma tubuh, lekuk demi lekuk, dan segala relung yang bisa dia nikmati sendiri ...