Skip to main content

Posts

Meneriaki Riak

“Mas, air hangatnya sudah siap.”. Lalu kubiarkan kau melucuti satu per satu peluh bekerja seharian. Ketika belum habis air kau guyurkan dari dalam gayungnya, kau menarikku serta. Tidak lelahkah? Pikirku. Tiba-tiba ... Plaaaaak Semua memaku ketika telapak tanganmu mendarat keras diantara pipi kiriku. Dinding-dinding menjerit mengutuk beberapa detik, ketika kepingan-kepingan yang dibangun percaya kau luluh lantahkan seketika. Kau tumpahkan air yang kau kira terlalu panas sampai membakar amarah dan menyambarkannya ke ulu hatiku. Aku tau kita terkontradiksi serupa mata uang dengan dua sisi. Jadi tolong, cukup kali ini saja tahan sebentar bengismu dan dengarkan aku . Satu satu sajakku terbeku mendendam, berhutanglah jiwa pada hampa ruang. Ah engkau pasti tak tau. Belum cukupkah kesakitan tanpa iba itu . B etapa telah engkau berikan rasa . T etapi begitu mudah engkau menumpahkan pilu diantaranya. D iamku menerima kesakitan . K etika jiwa adalah "kita...

Menunggui Bulan Bercinta

Lelaki itu duduk memunggungi malam. Merapal kalimat sakti berulang-ulang. Suaranya mulai serak dikejar angin barat daya. Lalu diam, seperti terjebak elipsis kegamangan. Diantara denyut nadinya ada ritme rindu yang tertelan keangkuhan. Aku bertaruh diri masuk alurnya. Melalui sela-sela riak yang yang bergoyang diantara kibasan ingatan. Lalu permukaan air terpecah tak beraturan. Hujankah? Bukan. Rupanya bulir bulir bening jatuh melayang dari mata sayu yang mulai lelah meruntuki rasa. Dia terisak dihadapanku yang telanjang. Ranting-ranting pinggiran bergesek riuh lalu meneriakiku... "Wanita jalang." Datang mereka yang mendikte dengan mulut penuh muntahan.. "Bisa apa dia jika digoda tubuh molek tanpa lindung sehelai saja.". Lelaki itu meremukkan mulut yang belum terkatup dengan sekali hempasan. Lalu menangis sejadi-jadinya. Kamu berlomba dengan siang, untuk tau seperti apa pagi yang mencekikku pelan-pelan. Aku pernah menantang gelap, mencari makna malam. ...

Kencan Kutukan

Sampanku sudah tertambat sendirian pada maghrib terjelang. Ada bekas jejak kaki berlumpur di pinggiran danau tadi petang. Tak biasanya. Aku mencari, lalu seorang kamu muncul dari balik bayang-bayang pohon yang terlempar ke pelataran. Cinta, jatuh aku. Berawal dari “Hallo” sederhana, kita bercerita.   Kubersihkan kakimu dan kita berjalan lama. Kamu ikatkan tali pada sampanku dengan eratnya. Kamu, ego, aku.  "Kita tak bisa hanya berlayar dengan sampan.", katamu berdiri dan kembali ke daratan. Jika kamu butuh kapal untuk kita berkidung dalam aman, aku upayakan. Namun jika bahtera megah hanya agar kamu tak malu mengarunginya, aku berserah. Lalu, kamu berdiri diantara aku dan seseorang yang bersembunyi dibalik punggungmu. Kekasih yang terkamuflase tawa kita. Kamu gandeng dia dengan sisa-sisa lumpur yang terselip diantara jemari kakimu. Pulanglah, kamu ditunggu pernikahanmu minggu depan. Entah senja ke berapa saat kamu berdiri didepanku lagi. Semalam aku menyap...

Bengawan Sore #8

"Nduk, ada apa to sebenarnya? Pulanglah ke rumah suamimu.", kata ibu mengusap pelipisku. Sungguh aku tak tau kemana lagi tempat berlari selain sepasang kaki hangat yang tak pernah lelah menerima keluhku. Aku hanya menghela nafas dan menerawangkan ingatan pada dini hari dua hari lalu. Mas Gara pulang dengan bau pekat minuman keras. Aku tundukkan kepalaku ketika membukakan pintu. Sejak hari dimana Mas Gara mengetahui kebenaran soal Tian, nyaliku seperti ditelannya bulat-bulat. Lalu sering timbul keributan hanya karena ketidak nyamanan sederhana. Mungkin ini wujud kekecewaan Mas Gara terhadapku. Walau begitu dia tak pernah berani menyakiti Tian. Malam itu tidak ada makanan tersisa dirumah. Tamparan keras mendarat di wajahku. Dengan tangis tak terbendung, kugandeng Tian yang setengah sadar dari tidur menuju rumah ibu.  Berkali-kali ibu membujukku untuk pulang dan menyelesaikan pertikaian yang tak dia ketahui penyebabnya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu depan. Mas Gara ...

Wanitamu (setelah aku)

Apa bisa disebut cinta? Jika jalinannya hidup dari kepedihan orang lain? Bagaimana dengan perselingkuhan? Jika hanya nafsu, tidak bisakah diselesaikan dalam sekali jumpa saja? Mengapa jadi palung sampai berhari-hari? Malam itu aku mengundang Sarah, teman dekatku untuk makan malam di rumah. Sekedar jamuan ulang tahun pernikahan keempat. Dengan tas bermerk, sepatu mengkilap, dan gaun mini karya perancang ternama, Sarah melenggang menuju meja makan. Suamiku menunduk tanpa dapat menutupi kekaguman pada tubuh indah di depan kami. Sementara aku, dengan daster gombrong yang sengaja ku kenakan mempersilahkannya menikmati hidangan. Seketika wajah suamiku memerah, matanya melotot, dan urat lehernya menonjol. Dia coba muntahkan sesuatu yang baru saja dia telan. "Kamu nggak tau Mas Rama alergi udang?". Sarah panik membopong suamiku. "Apa kamu fikir aku tidak mempedulikan suamiku, sampai dia harus mencari dari perempuan lain?", kataku tersenyum. Aku meletakkan...

Koper Tak Berisi

Hallo perempuan-perempuan yang menjinjing tas mahal, melenggang dengan sepatu mengkilap, dan keluar masuk pertokoan. Disini ada aku, dengan daster dan peluh tanpa sanggup mengeluh. Yang setiap nafasnya hanya untuk mengabdi pada suami.  Dini hari tadi, suamiku pulang dengan bau pekat minuman. Mungkin menang tender, atau bertemu kawan lama. Entah hanya kawan, atau beberapa perempuan seperti bisikan beberapa orang. Kalau aku bertanya, tubuhku akan memar setelahnya. Suamiku, nanti, kalau kamu sudah berlalu dari perempuan-perempuan penjaja rayu itu, pulanglah. Ada aku dirumah yang menunggumu dengan mata basah. Apalagi yang bisa kuberi, bukan paras, bukan body berkelas. Hanya rahim yang kujaga sepenuh hati Untuk setiap makian dan luka tamparan yang masih linu, aku berserah. Karena saat ini, aku belum mampu pergi. Tidak dengan meninggalkan buah hatiku di sini. Namun aku tak punya daya untuk membawanya serta. Sejak itu aku bekerja. Sejauh yang aku mampu untuk mengisi tabungan,...

Semalam Bersama Mirrors

Takdir sedang menggelitikiku, saat aku tertawa karena kebetulan tentang kita. Kebetulan yang membuat kita merasa dua orang yang disatukan kesamaan. Lalu menggoda untuk salah satu dari kita tersenyum sendiri saat membaca pesan, atau tersipu ketika mengingat hal menyenangkan. Malam itu di kafe. Di antara dua cangkir cokelat, kepulan rokok kita beradu. Layaknya tawa renyah malu-malu, dan aku yang kadang tersipu. Kamu lebih manis dari yang aku bayangkan. Bukan rupa, tapi hangat yang mungkin di rongga dadaku saja yang bisa merasa. Bagaimana ini, sepertinya cupid cupid sialan itu sudah berhasil mengenai sasarannya. Aku kalah dari dalam, dari hati yang sudah kamu sapa duluan. Kamu melangkah ke tengah ruangan. Duduk bersama pemain alat musik dan menghela nafas perlahan. Diantara alunan Mirrors yang kamu lantunkan, ada aku, di meja nomor 16 yang tak kuasa mengalihkan pandangan. Cause I don't wanna lose you now I'm lookin' right at the other half of me The v...