Skip to main content

Posts

Cup cup sayang :)

Gimana perasaan kamu ketika seorang pria yang begitu cuek, yang kadang dingin dan menyebalkan, tiba-tiba menangis tersedu-sedu dihadapanmu? Apalagi dia adalah pria yang begitu kamu sayang. Pria bukan tidak bisa menangis, ia hanya menumpahkan emosinya dengan cara lain. Egonya terlalu menolak untuk menitihkan airmata. Tapi dalam beberapa kondisi seorang pria bisa ‘kalah’. “Saking menyesalnya seorang pria telah menyakiti orang yang ia sayang atau membuat kecewa, ia juga dapat menangis.” Kamu bohong, aku marah, kita bertengkar, aku menangis, kamu minta maaf, kamu berjanji, kita baikan, kamu lupa, kamu bohong lagi, aku marah lagi, lalu apa? Sabar itu bagianku, dan terus menguji kesabaran itu bagianmu. Apa harus seperti itu alurnya? Tidak bisakah kita berusaha membuat segalanya berjalan lebih baik? Dalam beberapa saat, aku merasa lelah. Berusaha mempertahankanmu namun tetap menjadi diriku sendiri, sudah. Lalu, apalagi sih yang kamu cari? Cewe baik, yang diterima keluargamu? ...

Pasangan dan Krim Wajah

"Aku udah nyoba pakai krim yang disaranin Mona kemarin. Bukannya jadi putih, malah merah-merah gini kulitku." "Terus gimana?" "Ya aku hentiin pemakaiannya." Aku diam sebentar. Tertawa kecil. Lalu membayangkan seandainya percakapan tadi diganti. "Aku udah nyoba pacaran sama cowok mirip pasangannya Mona. Bukannya jadi bahagia, malah sedih gini." "Terus gimana?" "Ya aku hentiin pemakaiannya." Mirip ya. Kadang nyari pasangan hidup itu kayak milih perawatan buat wajah. 1. Ada iklan produk yang menarik, langsung pengen coba. Ya walaupun ada rasa takut ga cocok. Tapi ketertarikan sama produk baru itu biasanya ada. Dari situ muncul harapan-harapan supaya bisa jadi pasangan. 2. Efeknya juga gabisa langsung ngaruh dalam sehari. Kalo kita pakai krim wajah, mana ada yang ditinggal kedip mata langsung putih? Butuh proses. Sama seperti saat membangun chemistry dengan pasangan. Kita butuh waktu buat tau kecocokan sama pasangan. ...

Sesuap Nasi dan Pesawat Terbang

Ikut aku yuk, kita terbangkan memori ke masa saat masing-masing dari kita masih berusaha di bawah tiga tahun. Masih mengenakan kaos dalam dan celana pendek berlarian kesana-kemari tanpa beban. Tidak akan berhenti hingga ibu mendekat dan langsung menggendong kita. Ada satu peristiwa yang sebagian anak mungkin mengalaminya, entah ingat atau tidak. Ibu mendekat dengan sepiring makanan. Lalu kita berlari. Ketika sendok berisikan nasi itu mulai mendekat ke wajah kita. Kita membuang muka. Lalu ibu dengan sabarnya berkata “Ngeeeng pesawatnya mau mendarat”. Sembari menggerakkan sendok itu layaknya pesawat yang sedang terbang lalu makin mendekat ke mulut kita. Beberapa dari kita mau membuka mulut untuk menerima ‘pesawat’ itu mendarat. Beberapa juga masih merengek, bergeleng, dan tetap tidak mau membuka mulut. Haha, aku tertawa kecil mengingat kejadian itu. Kembali ke 2013 Waktu itu didepanku ada seorang wanita menggendong anak laki-lakinya. Dengan sepiri...

Rules of Romantic

Malam hari, di teras rumah, diantara sisa-sisa percik hujan dan angin semilir. Kamu duduk bersila, memegangi ponselmu. Dan aku menselonjorkan kaki sembari memainkan ibu jari kaki. Aku: kemarin temanku, yang cowonya anak band itu ulang tahun, terus cowonya ngasih surprise Kamu: surprise gimana? Aku: Dua hari sebelum ulang tahun, cowonya pamit mau manggung di luar kota, bilang pulang tanggal 12, padahal ulang tahun temenku itu tanggal 11 Kamu: Terus? Aku: Ya temenku cuma jawab yaudah. Terus pas hari H ulang tahun, cowonya cuma ngucapin lewat telfon. Malem temenku ngajak aku sama beberapa anak makan. Kamu: Oh yang waktu kamu pamitan wedangan itu? Aku: Iya. Pas di wedangan,ada pengamen, pake topi, pake jaket hoodie, mukanya ga jelas, gelap soalnya. Kamu: (diem mendengarkan) Aku: Pas temenku ngasih receh, tangannya dipegang, tiba-tiba pengamen itu buka topi, ternyata itu cowonya, nyanyiin happy birthday pake gitar. Romantis ya? Lalu hening sebentar. Lalu kamu mengangkat alis Ka...

'BISA' sih, tapi 'MAU' nggak?

Kadang seseorang itu nggak sadar ada kekuatan dalam dirinya. Ini bukan soal superhero atau ilmu metafisika ya. Tapi gimana melawan rasa takutmu sendiri sampai kamu bener-bener harus nekat bahwa kamu pasti bisa lakuin itu. Sore hari, agak mendung “Mbak ini kok TV nya jadi burem?”, kata salah satu adik kembarku. “Coba ganti channelnya.” Klik klik klik. Beberapa kali dia mengganti channel. Tetap saja gambar di televisi itu buram. Mungkin antenanya gerak. Kemarin hujan deras mengguyur kota kami. Angin kencang juga sempat membuat rusak bangunan-bangunan di beberapa tempat. Mungkin angin itu juga yang membuat antena rumah kami bergeser sehingga gambar televisi kami buram. Dulu, saat ayah dirumah, beliau yang naik keatap lantai 3 untuk membenarkan antena. Sekarang ayah di luar kota. Sedangkan ibuku sudah cukup tua dan gemuk untuk memanjat ke atap, bisa jadi anak tangga rubuh diinjak oleh ibu. Haha (maaf bu :p). Aku juga tidak mungkin menyuruh adikku yang masih kecil itu. Daridu...

Rindu Dering Telfon Ibu

Pernah nggak kamu bicara dengan seseorang lalu tiba-tiba terdiam. Kamu ingat seseorang yang begitu menyayangimu. Seseorang yang kadang kamu abaikan karena kesibukanmu. Yang dengan bahagia mengantar dan menyambut kedatanganmu kedunia. Kemudian ada sedikit rasa aneh di hati, bisa bahagia, sedih, terharu, bahkan marah dengan dirimu sendiri.Lalu kamu menangis dalam diam.  Aku pernah mengalaminya. Tentang anak yang kadang nggak sadar kalau ibunya bener-bener sayang sama dia. Waktu itu aku ada acara bareng suatu komunitas untuk outbound di luar kota. Acara itu mengharuskan aku menginap untuk 3 hari. Setelah sebelumnya aku mengalami kecelakaan lalu lintas yang tidak terlalu parah, hanya memar dan lecet di beberapa tempat. Sebelumnya biar aku cerita kondisi dirumah. Kami dirumah hanya berempat dan kesemuanya perempuan. Aku, Ibu, dan kedua adik kembarku yang masih berumur 13 tahun. Sementara Ayah bekerja di luar kota dan paling hanya bisa pulang 3 bulan sekali. Jadi dirumah ...